Bahkan Lelaki Pun Menangis

Bahkan lelaki pun menangis…

Barusan aku membaca blognya Rifka, ternyata dia baru saja mencoba menulis sebuah cerita. Judulnya Jangan Lagi Satria*.

Membaca ceritanya aku seperti membaca masa laluku, tentunya dengan tokoh, karakter, setting, dan alur yang berbeda namun memiliki garis besar yang identik. Sebuah pengakuan masa lalu yang ingin ku kubur dalam-dalam. Sebuah corengan dimukaku.

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra : 32)

Dulu, teramat dulu aku pernah menyukai seorang wanita. Seorang wanita yang dengan keinginan kuat ingin kunikahi, tentunya aku ingin menikahi dirinya sebagai aku yang dewasa, bukan aku yang dulu yang masih terlalu kekanak-kanakan dan tidak mampu mandiri. Wanita itu amat begitu berarti bagiku, bahkan antara dia dan illah seperti hanya dibatasi oleh garis tipis. Aku terlalu memujanya.

Wanita itu dengan berlangsungnya waktu lebih aku cintai daripada sang puteri. Walau mungkin hingga saat ini dia tidak akan pernah menyadari betapa berartinya dia bagiku, tetapi itu dulu. Aku menyebutnya: Taman Surga.

Bahkan, barier yang selama ini kubangun seolah tanpa bekas. Mungkin inilah cinta. Namun saat itu aku berada dalam konotasi cinta yang salah, bukan sebuah cinta yang dibenarkan dalam ikatan sebuah pernikahan.

Bahkan lelaki pun menangis…

Dia adalah wanita yang pertama berjalan beriringan denganku. Aku ingat, pertama kali aku berjalan dengannya adalah setahun yang lalu, kami berjalan ke pameran buku. Aneh, kami tidak seperti lelaki-wanita pada umumnya, ada jarak diantara kami. Ketika aku kekiri, dia kekanan, dan ada beberapa meter jarak kami. Ada alasan untuk semua itu; Aku malu.

Setelah kejadian itu, aku pun menangis. Meratapi diriku, namun hanya seorang yang pernah kuceritakan tentang itu yaitu kepada seorang bidadari. Yah, aku menyebutnya bidadari. Kepadanya aku menangis, berbicara aku kepadanya betapa aku merasa kotor.

Lantas apakah setelah itu semua terhenti? Tidak. Kejadian terus berlanjut.

Bahkan dia wanita pertama yang ku bonceng. Kami ke pantai. Namun hingga di pantai, tidak pernah satu kali pun kulitku bersentuh dengan kulitnya. Ada alasan untuk semua itu; Aku malu.

Mungkin Tuhan masih teramat sayang denganku. Dia memberiku rasa malu, namun juga menghadiahiku dengan nafsu yang begitu menggebu. Satu pelajaran yang kuambil di sini, bahwa cinta juga melahirkan nafsu.

Nafsu membuatku ingin terus berada didekatnya. Nafsu membuatku ingin terus agar dia bersamaku. Nafsu membuatku ingin melakukan lebih-lebih-lebih dan lebih, namun aku teramat malu. Aku malu pada Tuhanku, aku malu pada diriku sendiri. Namun nafsu membuatku tidak pernah mampu berhenti, walau aku harus teramat malu.

Ada satu ketakutan ketika itu: aku takut jika kami tidak bersama, aku takut jika wanita itu bukan jodohku.

Bahkan lelaki pun menangis…

Lantas Tuhan memberi jalan yang terbaik. Saat aku berada dipuncak cinta, ketika aku begitu menggebu mencintainya, ketika cemburu berada diubun-ubun, ketika aku ingin memonopoli dirinya, Tuhan bertindak lain. Dihapusnya rasa cinta itu pada wanita itu.

Lantas akupun bertanya, “Mengapa demikian. Apa yang membuatmu begitu?

Seorang pria yang dianggapnya dewasa telah membawanya pergi. Campaklah aku dalam kebisuan cinta, dan hati yang terburai. Aku kolaps.

Namun itu dulu, sekarang aku mampu tersenyum walau terkadang bayangan cinta masih menyelimutiku. Terkadang aku masih memikirkan wanita itu, berharap kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik kepadanya. Aku ingin dia berjalan lurus, lebih lurus daripada jalanku.

Ternyata Tuhan amat mencintaiku, walau aku telah pernah menangis.

Setiap manusia pasti memiliki masa lalu kelam. Mereka memiliki waktu dan pengalaman, sebuah kisah-kisah dikumpul agar manusia mampu memilih yang terbaik untuk berjalan ke depan.

Sesekali, berhentilah sejenak. Rehat dan perhatikan masa lalu, begitu banyak yang mampu diambil kesimpulan yang berguna. Walau itu pengalaman terburuk sekalipun.

Karena masa lalu… bahkan lelaki pun menangis…

Tagged: , , , , , , ,

6 thoughts on “Bahkan Lelaki Pun Menangis

  1. ijal 10 November 2008 pukul 7:34 pm

    curhat lagi ben..hehe..

    “bisa jadi sesuatu yg engkau sukai itu tidak baik bagimu,
    namun malah sesuatu yang tidak engkau sukai itu yg baik bagimu”

  2. Muhammad Baiquni 11 November 2008 pukul 1:40 am

    Amin…

    Memang demikian adanya fi, yang fi ucapkan tidak salah. Dan beni merasa bersukur untuk kondisi yang sekarang, paling tidak kondisi saat ini beni tidak lagi terlalu futur.

    Sedikit-sedikit adalah…

  3. rifkaaisyah 11 November 2008 pukul 9:58 am

    beni, hiks-hiks, jadi pengen nangis…
    sudah ben, berhenti menangis…

    kini kau tahu kebenaran itu, biarlah masa lalu menjadi cambukmu dan masa depan menjadi amalmu🙂

  4. Nur 13 November 2008 pukul 3:36 pm

    jarak wanita dan pria itu malu diantaranya.

  5. Nuril 7 April 2009 pukul 7:59 am

    Assalamu’alaikum. Walaupun belum kenal2 x dgn abg, tapi ngeliat tulisan2nya di milis plus di blog, duh, satu kesan = sensitiver! Mental bagus dan langka itu, sesuatu yg mbuat seorg pnulis tetap mnulis dan terus mnulis ttg hal2 yg dirasakan kberadaannya. Tetap menulis n sesekali maen ke FLP aja, biar kenalan ma smua anak2, jd ga di milis aja🙂

  6. andy aksara 5 Oktober 2011 pukul 9:03 pm

    ini baru kemasan cerita untuk kaula muda.
    q sampai ikud menangis di buatnya
    tankz bgt wat semuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: