Novelis Yusaku – Sang Psikolog

Semalam, baru kali itu aku begitu jujur pada seseorang. Dia kupanggil Afif. Sekarang sedang kuliah di psikologi jurusan klinis. Bahkan sebuah kejujuran yang tak pernah aku ungkapkan kepada orang lain sebelumnya. Tidak kepada Aik, Wendri, bahkan keluargaku pun tidak.

Sisi-sisi gelapku kuterangkan kepadanya. Siapa aku sebenarnya kujelaskan kepadanya. Hampir tak ada yang kututupi, termasuk dosa-dosaku. Semua kubicarakan.

Aku ingin berubah. Aku ingin dia menganalisa letak permasalahan diriku. Aku ingin Afif menuntunku ke tempat seharusnya aku berpijak, dan bagaimana agar aku mampu lepas dari kegelapan diriku yang bahkan diriku sendiri tak mampu memahaminya.

Perasaan kejam itu, perasaan beringas, benci, dendam, khayalan, juga rasa kasih, rasa ingin berubah, penyendiri, introvert, wajah yang penuh topeng, traumatisme, dan lain sebagainya. Aku ingin segera menghilangkan sisi-sisi burukku tersebut. Aku sangat ingin.

Ada beberapa halangan saat menghubunginya. Namun semuanya berjalan dengan lancar.

Namun semua langkah besar selalu diawali dengan langkah kecil terlebih dahulu, begitu aku katakan kepada Afif. Aku tidak mungkin berubah total dalam semalam, semua harus dimulai dari hal yang paling kecil dan mendasar. Hal yang paling fundamental.

Mungkin aku harus tetap menjaga konsultasiku dengan Afif untuk mencapai perubahan yang sempurna. Semoga saja Afif tidak merasa terganggu karena ada orang sinting dan gila yang akan berkonsultasi dengannya. Semoga saja.

Ahh…

Waktu itu semakin dekat. Waktu untuk menghapus langit dan bumi. Aku mampu menghirup udara itu, udara ketakutan anak manusia ketika matahari terbenam di timur. Sebelum hari itu tiba, aku harus segera berubah. Aku ingin saat berjumpa dengan-Nya nanti, Dia tak mengacuhkan aku atau malah berpaling. Aku ingin Dia tersenyum padaku dengan senyuman hangat dan sambutan tangan terbuka.

Tuhan, aku rindu Kamu.

Jantung yang Kau titipkan telah semakin lemah. Itu berarti waktuku untuk menuntaskan takdir kali ini akan segera usai bukan? Aku tak sabar! Tak sabar merasakan pelukan hangat-Mu.

4 thoughts on “Novelis Yusaku – Sang Psikolog

  1. aam riri 7 Juni 2008 pukul 12:57 am

    kadang semua harapan tak selalu tercapai.. hidup bahagia, matipun bahagia..

  2. rifkaaaa 7 Juni 2008 pukul 4:13 am

    apa yang kamu dapatkan dari konsultasi pertama, ben?

  3. Muhammad Baiquni 7 Juni 2008 pukul 11:52 am

    belum maksimal rif, jadi hasilnya lom terlihat. Pulsa beni habis, jadi ga isa konsultasi utk berikutnya.

    Lagian si afif sedang ngurus skripsi kalo ga salah.

  4. Aulia 7 Juni 2008 pukul 12:38 pm

    Semoga mimpimu semua menjadi kenyataan. Amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: