DIARY of muhammad baiquni

Hanya kota jenuh dimana kau akan menemukan seorang baiquni di tengah kemunafikan dunia

Arsip untuk kategori ‘puisi jiwa

Meradang Sepi

dengan 3 komentar

Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak

lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi

Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi

langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu

kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian

Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri

Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

15 November 2008 pada 1:10 pm

Ditulis dalam puisi jiwa

Dikaitkatakan dengan , , ,

Jangan Jadi Pecundang

dengan 5 komentar

saat itu kamu adalah satu dari sejuta
lantas mengapa harus tersungkur
padahal kamu dulu adalah pejuang
lantas mengapa sekarang menjadi pecundang

terlalu lama melupakan
bahwa tiap jalan ada tuntunan
terlalu lama melupakan
bahwa kamu berjalan dengan kekuatan

setelah sekian lama terhenti
apakah telah lupa nikmatnya usaha
atau haruskah kecilmu dikembali
atau bahkan ketika kau hanya setetes mani

tersenyumlah
perjuangan itu indah
untuk beribu kemenangan yg berharga

semakin rintang cobaan
semakin indah arti kemenangan

tidak percaya?

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

3 November 2008 pada 12:01 pm

Ditulis dalam puisi jiwa

Dikaitkatakan dengan , , , , ,

Aku Bukan Pengecut

dengan satu komentar

sekarang aku malah bingung
malu menyebut nama setelah lahir cinta
takut-takut nama akan menjadi belati
menghunusku dalam…
ahh, cerita sang pengecut kembali terukir

haruskah seperti itu?
pengecut ditandai dengan katakan tidaknya cinta
haruskah seperti itu?
pengecut adalah mereka-mereka yang tidak punya malu

lantas kemana sabda nabi,
saat dia berkeras kata:
jika sudah tidak punya malu, maka lakukanlah sesukaku
kemana?
matikah kata itu ditelan jaman?
atau telah menjadi pasir yang tersapu ombak

salahkah bila aku malu?
salahkah bila nama itu hanya terkata dalam relung
salahkah bila nama tak pernah terucap
ini karena malu
bukan karena aku pengecut

maaf teman,
aku bukan pengecut
terlalu salah engkau menduga

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

17 Oktober 2008 pada 1:56 am

Ditulis dalam puisi jiwa

Hanya Sekedar Kenangan

dengan 4 komentar

Ku berdiri, kau malah pergi tinggalkan aku
Ku mengejar, kau pun ketus perkata “Ini yang terakhir darimu”
Ku diam, kau semakin menjauh
Ku mundur, aku mati dihatimu

Malamku lebih dingin, lebih sepi
Dan rusuk memelukku erat
Namun aku masih bisa tersenyum
Karena luka yang amat sangat

Kau tahu?
Tiap doaku namamu selalu ku sebut
Terlalu takut aku
Kau menjadi mangsa buaya
Atau serigala di belantara manusia

Apakah ada yang seperti aku?
Terlalu memperhatikanmu
Bahkan sakit dan sehatmu
Pada bulan-bulan yang selalu berganti

Wahai pecinta mawar
Yang rela terluka saat ingin menyentuhnya
Wahai yang selalu menangis
Yang selalu memiliki benci dijiwa

Sempurna…
Masihkah kau mengingat tentang itu?
Atau kau lebih mengingat yang lain
Usai sudah

Terlalu cemburu
Karena eratnya cinta yang harus dikungkung
Membuatmu tak akan pernah nyaman

Puisi ini hanya sekedar kenangan
Ditulis oleh hati yang merindu
Dari seorang pria: yang kau anggap tidak dewasa

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

14 September 2008 pada 12:15 pm

Ditulis dalam puisi jiwa

Dikaitkatakan dengan , , , , , , ,

Bergetar Ia dan Segalanya Bergetar

dengan 6 komentar

Bergetar hatiku amat hebat, berdebar kencang tak menentu saat pumbuluh menyempit, aliran darah menjadi begitu kencang, mengguncang nadi. Tuhan, mengapa ini kembali terjadi?

Aku jatuh cinta…

Entahlah, aku tidak mengerti apakah ini cinta atau hanya kekaguman biasa. Namun yakinlah wahai seseorang yang sedang kucintai, ku pastikan engkau tidak akan pernah mengetahui betapa aku mencintaimu. Tak akan kembali aku terperosok seperti dulu lagi, menjadi budak nafsuku dengan menggumbar kata-kata cinta. Aku berjanji, itu tidak akan terjadi lagi.

Tahukah kamu seseorang yang sedang kucintai? Terkadang air mataku menetes, berharap sangat Tuhan mencabut rasa yang mulai mengakar dihatiku ini karena ku mengerti; Sungguh tak pantas diriku bersanding dengan dirimu. Sungguh tak pantas sebelum aku juga memiliki keimanan setangguhmu.

Lelaki mana di dunia ini yang tak ingin mempersunting seorang bidadari? Lelaki mana? Katakan padaku.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

6 September 2008 pada 7:20 am

Benci Benci Benci

tinggalkan komentar »

jangan heran
bila langitmu malam ini tanpa bintang
telah ku telan semua bintang
dan bahkan hitam telah hilang

kau tak ada
aku tak berarti
jangan pernah ada bayang lagi,
walau setitik elektron yang menjalari sel abu-abu

kamu hilang
aku terbakar ilalang
sudah cukup…
cukup sudah…
kita bermain dengan api dan benci
lebih baik ku pergi menghilang
atau kau mati saja, lalu hilang tertelan bumi

benci benci benci
sepenuh aku benci
kepadamu
sepenuh aku cinta juga kepadamu

lebih baik kamu pergi, atau aku yang mati
tapi lebih baik kamu mati lalu aku pergi
sehasta menjauh, sedepa lari, pergilah jauh hingga mataku buta
dan bayangmu sirna

cukup cukup cukup
aku mencintaimu
sekarang kisah baru kita dibentangkan
episode baru
AKU MEMBENCIMU

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

26 Agustus 2008 pada 1:22 am

Ditulis dalam puisi jiwa

Dikaitkatakan dengan , , , , , , , , , , ,

Blogs ku pindah

dengan satu komentar

Setelah lama ga ngeblogs di sini, akhirnya aku umumkan bahwa blogs ku pindah alamat ke HTTP://WWW.BAIQUNI.NET

JANGAN LUPA YAA… KUNJUNGI BLOGSKU YANG MASIH DI UPDATE DI SANA.

CHAYYOOO

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

6 Juli 2008 pada 3:54 pm

Kematian Matahariku

dengan satu komentar

Jika matahariku mati hari ini, dia tidak akan membentuk supernova… tetapi hanya terkikis pijarnya lalu menghilang.

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

2 Juli 2008 pada 1:09 am

Ditulis dalam puisi jiwa

Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda

dengan 8 komentar

Datul…

Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah.

Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia bahagia. Memandangnya tanpa jemu tanpa jeda. Memberikan perlindungan. Lagi-lagi aku salah.

Dulu aku pernah bertanya, “Aku tidak dewasa, bagaimana?”

“Cukuplah kamu, aku tidak membutuhkan yang dewasa.”

“Apa yang kau inginkan?” Tanyaku.

“Sebuah cinta yang tulus.” Katanya sembari tertawa kecil.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

29 Juni 2008 pada 6:50 pm

Pengkhayal

tinggalkan komentar »

“Sumpah, baru kali ini aku menemukan cowo seperti loe Ben.” Sahabatku tiba-tiba berkata demikian saat kami sama-sama sedang menikmati sensasi ketinggian dari puncak gunung, saat kami sama-sama sedang duduk-duduk di tepi jurang.

”Emang kenapa dengan gw sahabat?” Tanyaku tak mengerti.

”Loe tuh tukang khayal! Dan khayalan loe tuh terlalu jauh. Jauh banget!” Lanjutnya.

”Aku?” Tanyaku menegaskan. ”Aku pengkhayal?”

”Yoha… dan khayalan loe tuh kejauhan. Khayalan tingkat tinggi.” Katanya lagi.

”Apa ada yang salah dengan khayalan? Loe tau kan pesawat terbang itu juga awalnya muncul dari khayalan manusia yang ingin terbang. Loe ga lihat sahabat, bagaimana mobil, listrik, lampu, telepon, handphone tercipta? Semuanya berawal dari khayalan. Dari mimpi. Dan apa salah jika aku bermimpi?” Kataku membela diri.
Baca entri selengkapnya »

Ditulis oleh Muhammad Baiquni

29 Juni 2008 pada 3:55 pm

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.