Arsip untuk kategori ‘puisi jiwa’
Meradang Sepi
Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak
lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi
Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi
langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu
kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian
Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri
Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi
Jangan Jadi Pecundang
saat itu kamu adalah satu dari sejuta
lantas mengapa harus tersungkur
padahal kamu dulu adalah pejuang
lantas mengapa sekarang menjadi pecundang
terlalu lama melupakan
bahwa tiap jalan ada tuntunan
terlalu lama melupakan
bahwa kamu berjalan dengan kekuatan
setelah sekian lama terhenti
apakah telah lupa nikmatnya usaha
atau haruskah kecilmu dikembali
atau bahkan ketika kau hanya setetes mani
tersenyumlah
perjuangan itu indah
untuk beribu kemenangan yg berharga
semakin rintang cobaan
semakin indah arti kemenangan
tidak percaya?
Aku Bukan Pengecut
sekarang aku malah bingung
malu menyebut nama setelah lahir cinta
takut-takut nama akan menjadi belati
menghunusku dalam…
ahh, cerita sang pengecut kembali terukir
haruskah seperti itu?
pengecut ditandai dengan katakan tidaknya cinta
haruskah seperti itu?
pengecut adalah mereka-mereka yang tidak punya malu
lantas kemana sabda nabi,
saat dia berkeras kata:
“jika sudah tidak punya malu, maka lakukanlah sesukaku“
kemana?
matikah kata itu ditelan jaman?
atau telah menjadi pasir yang tersapu ombak
salahkah bila aku malu?
salahkah bila nama itu hanya terkata dalam relung
salahkah bila nama tak pernah terucap
ini karena malu
bukan karena aku pengecut
maaf teman,
aku bukan pengecut
terlalu salah engkau menduga
Hanya Sekedar Kenangan
Ku berdiri, kau malah pergi tinggalkan aku
Ku mengejar, kau pun ketus perkata “Ini yang terakhir darimu”
Ku diam, kau semakin menjauh
Ku mundur, aku mati dihatimu
Malamku lebih dingin, lebih sepi
Dan rusuk memelukku erat
Namun aku masih bisa tersenyum
Karena luka yang amat sangat
Kau tahu?
Tiap doaku namamu selalu ku sebut
Terlalu takut aku
Kau menjadi mangsa buaya
Atau serigala di belantara manusia
Apakah ada yang seperti aku?
Terlalu memperhatikanmu
Bahkan sakit dan sehatmu
Pada bulan-bulan yang selalu berganti
Wahai pecinta mawar
Yang rela terluka saat ingin menyentuhnya
Wahai yang selalu menangis
Yang selalu memiliki benci dijiwa
Sempurna…
Masihkah kau mengingat tentang itu?
Atau kau lebih mengingat yang lain
Usai sudah
Terlalu cemburu
Karena eratnya cinta yang harus dikungkung
Membuatmu tak akan pernah nyaman
Puisi ini hanya sekedar kenangan
Ditulis oleh hati yang merindu
Dari seorang pria: yang kau anggap tidak dewasa
Bergetar Ia dan Segalanya Bergetar
Bergetar hatiku amat hebat, berdebar kencang tak menentu saat pumbuluh menyempit, aliran darah menjadi begitu kencang, mengguncang nadi. Tuhan, mengapa ini kembali terjadi?
Aku jatuh cinta…
Entahlah, aku tidak mengerti apakah ini cinta atau hanya kekaguman biasa. Namun yakinlah wahai seseorang yang sedang kucintai, ku pastikan engkau tidak akan pernah mengetahui betapa aku mencintaimu. Tak akan kembali aku terperosok seperti dulu lagi, menjadi budak nafsuku dengan menggumbar kata-kata cinta. Aku berjanji, itu tidak akan terjadi lagi.
Tahukah kamu seseorang yang sedang kucintai? Terkadang air mataku menetes, berharap sangat Tuhan mencabut rasa yang mulai mengakar dihatiku ini karena ku mengerti; Sungguh tak pantas diriku bersanding dengan dirimu. Sungguh tak pantas sebelum aku juga memiliki keimanan setangguhmu.
Lelaki mana di dunia ini yang tak ingin mempersunting seorang bidadari? Lelaki mana? Katakan padaku.
Benci Benci Benci
jangan heran
bila langitmu malam ini tanpa bintang
telah ku telan semua bintang
dan bahkan hitam telah hilang
kau tak ada
aku tak berarti
jangan pernah ada bayang lagi,
walau setitik elektron yang menjalari sel abu-abu
kamu hilang
aku terbakar ilalang
sudah cukup…
cukup sudah…
kita bermain dengan api dan benci
lebih baik ku pergi menghilang
atau kau mati saja, lalu hilang tertelan bumi
benci benci benci
sepenuh aku benci
kepadamu
sepenuh aku cinta juga kepadamu
lebih baik kamu pergi, atau aku yang mati
tapi lebih baik kamu mati lalu aku pergi
sehasta menjauh, sedepa lari, pergilah jauh hingga mataku buta
dan bayangmu sirna
cukup cukup cukup
aku mencintaimu
sekarang kisah baru kita dibentangkan
episode baru
AKU MEMBENCIMU
Blogs ku pindah
Setelah lama ga ngeblogs di sini, akhirnya aku umumkan bahwa blogs ku pindah alamat ke HTTP://WWW.BAIQUNI.NET
JANGAN LUPA YAA… KUNJUNGI BLOGSKU YANG MASIH DI UPDATE DI SANA.
CHAYYOOO
Kematian Matahariku
Jika matahariku mati hari ini, dia tidak akan membentuk supernova… tetapi hanya terkikis pijarnya lalu menghilang.
Berpikir Dengan Sudut Pandang Berbeda
Datul…
Aku pernah menulis dia dalam beberapa episode kehidupanku. Menuliskan betapa aku mencintainya hingga detik ini. Terkadang aku mengerti, terlalu memperhatikan dan terlalu mengacuhkan bisa menjadi petaka dan prahara. Aku salah.
Terkadang aku berpikir, apakah ada pria lain yang mampu sepertiku? Memandangnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menatapnya kapan dia sakit dan kapan dia bahagia. Memandangnya tanpa jemu tanpa jeda. Memberikan perlindungan. Lagi-lagi aku salah.
Dulu aku pernah bertanya, “Aku tidak dewasa, bagaimana?”
“Cukuplah kamu, aku tidak membutuhkan yang dewasa.”
“Apa yang kau inginkan?” Tanyaku.
“Sebuah cinta yang tulus.” Katanya sembari tertawa kecil.
Baca entri selengkapnya »
Pengkhayal
“Sumpah, baru kali ini aku menemukan cowo seperti loe Ben.” Sahabatku tiba-tiba berkata demikian saat kami sama-sama sedang menikmati sensasi ketinggian dari puncak gunung, saat kami sama-sama sedang duduk-duduk di tepi jurang.
”Emang kenapa dengan gw sahabat?” Tanyaku tak mengerti.
”Loe tuh tukang khayal! Dan khayalan loe tuh terlalu jauh. Jauh banget!” Lanjutnya.
”Aku?” Tanyaku menegaskan. ”Aku pengkhayal?”
”Yoha… dan khayalan loe tuh kejauhan. Khayalan tingkat tinggi.” Katanya lagi.
”Apa ada yang salah dengan khayalan? Loe tau kan pesawat terbang itu juga awalnya muncul dari khayalan manusia yang ingin terbang. Loe ga lihat sahabat, bagaimana mobil, listrik, lampu, telepon, handphone tercipta? Semuanya berawal dari khayalan. Dari mimpi. Dan apa salah jika aku bermimpi?” Kataku membela diri.
Baca entri selengkapnya »
