DIARY of muhammad baiquni

Surat Untuk Yang Tersakiti

Posted by: Muhammad Baiquni on: 20 November 2008

Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.

Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini, untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti,

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita. Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku.

Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan? Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?

Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku? Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.

Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel. Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Aku ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.

Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?

Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!

Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.

Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.

Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seorang baiquni seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari bidadari.

Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat bidadariku.

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.

Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu? Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?

Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?

Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.

Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

18 Tanggapan ke "Surat Untuk Yang Tersakiti"

baca ’surat yang tersakiti’ ni, fi jadi ikut sedih.. :(

mudah2an hatinya tersentuh…amien..

“Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu” mungkin sudahlah…

thanks heru atas komentarnya

iyaa..judulnya sama ya. Judulnya aq ambil dari blognya si dudung. trus terinspirasi, tp utk kisah yg lain. Jadi ya isinya beda. Thanks jg utk inspirasinya :)

ok
semoga semua memaafkan………

judul nya…

jadi spitless…

ikz..

iya,udah…maafin aja..karena ada banyak hal yang baik bisa kita dapatkan dengan saling memaafkan

subhanallah…..
aq sk bgt baca blog muhammad baiquni
ajarin aq dong k’
aq dah punya blog tp aq blm terlalu mengerti untuk menulis
harus k mn? kunjungi blog aq y k’
khofiya.wordpress.com

baca artikel ini buatku merasa sedih nih!!!

subhanallah

benar indah amat indah
dikala luka terlalu dalam sembuh pun masih tak terpadam
hingga terkadang aku berdendam kau masih setia

hmm (hehe) hmm hmm hmm
ada-ada aja …
hehehe.. mo komen kok jadi gak tega
gak jadi ah

“Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak laksana katrina. Bahkan setelah itu aku masih memaafkanmu, bahkan aku menunduk memintamu memaafkan aku”

i love this sentences….
aku ingin dy juga membaca surat ini.

aloow ben..assalamualaikum kawan!hehehhe….dah lama gak ketemu…masih suka injek2an kaw?hahah…mana si abdillah aka neo?tak kulihat2 lagi aktivitas dia?

Mantap bro..

Asw…
bagus….cerita nya.
sedikit byk mirip sama kisah aku…-
tapi “dia” org yg penh q sakiti…mngkin gk pernh mau memaafkan aku…krn dia pernh blng sprti itu…-tp smpai kpn pun psti q kan menuggu maaf dari nya…-semoga “dia” yg prnh engkau sakiti juga memaafkan mu.

Sungguh luar biasa;
membaca tulisan anda membuat saya mengenang masa lalu;
Kejadian begini banyak orang yang mengalami;
Semoga anda tabah menjalani;

Benar sekali
Jika kita benci sesuatu jangan 100%;
karena bisa jadi yang kita benci menjadi sangat kita sukai nanti;
Begitu juga sebaliknya kalau mencintai sesuatu jangan 100%;
karena bisa jadi suatu saat kita akan membencinya;

Baik menurut kita belum tentu baik dimata Allah
Buruk menurut kita belum tentu buruk dimata Allah

Salam Buat Baiquni

Tinggalkan Balasan

 

November 2008
S S R K J S M
« Okt    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930

Blog Stats

  • 15,812 hits