Posted by: Muhammad Baiquni on: 15 November 2008
Meradang Sepi,
gigilku mengguncang bumi
langitpun patah-patah
“Mengapa kesepian bisa sedemikian hebat?”
dan Tuhanpun terbahak
lampion-lampion telah kumatikan semua
tak pernah ada yang tahu
ssttt… aku meringkuk sendiri
pojok sudut ruang dingin pengap dan lembab
jangan ada yang tahu: aku sedang meradang sepi
Cinta bergelut
memaksaku memayapada
namun aku berontak
“biarkan aku sendiri!”
menikmati keindahan sepi
langitpun gugur
rontoklah semua bintang
dan gunung-gunung berhamburan
ibu hamil melahirkan anaknya
semua orang berontak, berteriak, berlari tak tentu arah
dan bumi telah habis usia
namun aku terpaku diam, sepi sungguh lebih hebat dari itu
kemari… ayo kemari
menikmati secanggir teh dari kesunyian
dan melahap cemilan dari kesendirian
lalu terbaring pulas, setelah kenyang
kita bermimpi tentang kesepian
Owh,
lagi-lagi Tuhan terbahak
dikiranya lucu!
menuliskan jalanku di kitab dengan kosakata sepi
membiarkanku sendiri
Tidak,
telah ada yang salah
aku tidak sepi, aku tidak sendiri
masih ada Tuhan yang terbahak
menertawaiku meradang sepi
15 November 2008 pada 3:43 pm
“Meradang sepi..”
(Mang qe kek tu skrg, cung?)
(Heran)
Paleng qe nti kalau di telpon ma kawan2 qe, qe seolah-olah (atao mmg) ga nampak tu seteress qe..
Akhirnya (k kembalikan kata2), “Jadilah tegar setegar-tegarnya!”
Usia makin beranjak tinggi (alias tua), ngerti kan adikku.. (hehe.. )
Mantapkan langkah, jangan hanya termenung ma kesepian yang semu qe tu!!!
Wassalam